kemarin saya dan keluarga pergi ke tanjung aru, mengantarkan seorang paman bernostalgia (nanti saya post ceritanya). tanjung aru terletak di selatan pulau kalimantan, sebuah desa nelayan nan kecil, elok, dan bersahabat. untuk kesana kami menempuh 15 menit perjalanan dengan kapal dari pelabuhan balikpapan, disambung dengan mobil selama 3,5jam melalui jalan buruk dari desa pelabuhan panajam ke desa pelabuhan lori. sampai di lori, kami lanjut naik kapal kecil ke tanjung aru, berlayar selama satu jam.
nah, postingan ini saya dedikasikan untuk 'kenek' kapal kecil menuju tanjung aru ini. sebelumnya ada baiknya saya kabarkan, sebagian besar penduduk tanjung aru -begitu juga lori- berasal dari suku bugis. moyang mereka yang doyan melaut dan merantau sepertinya menemukan pulau ini dan membuat perkampungan.
jadi ari, sang 'kenek' kapal yang membantu pak kapten (saya tidak tahu namanya, dari pertama bertemu saya panggil dia begitu) juga masih saudara, pak kapten itu pamannya. ari yang juga sempat jual ikan di pasar kelandasan balikpapan ini bertugas memperhatikan kondisi mesin selama kapten mengendarai kapal.
nah, yang terjadi begini, diperjalanan pulang dari tanjung aru ke lori, hujan turun deras sekali. kami diam dibawah atap kayu perahu kecil itu, tapi ari, dia tidak bisa diam, bolak balik ari memeriksa air bahkan sesekali menimba air yang masuk ke bagian dasar kapal, kehujanan, basah kuyup. jadi papah sayah dengan refleknya buka baju luarnya yang kering dan menawarkannya ke ari. papa dimarahin mama, jadi papa ambil baju keringnya yang belum dipakai di dalam tasnya, terus kasi ke ari. ari dengan sangat sopan -menurut saya- menolaknya.
hujan yang deras dan angin kencang itu berhasil ditempuh duo kapten dan ari, jadi papa senang dan memberi tip khusus untuk ari yang sudah hujan-hujanan. dimata kami itu merupakan sesuatu yang wajar, dia menjual jasa dan jasanya kami kira luar biasa dan plus-plus, sehingga tidak ada salahnya kami beri bayaran ditambah 'plus'nya. lagi-lagi ari menolak tip itu. kami heran dengan perilaku ari ini, jadi kami menitipkan tip ari ke pak
kapten.
dijalan pulang, ari kirim sms ke papa, isinya begini "semoga bapak ibu sekeluarga dimudahkan segala urusannya, terima kasih banyak, maaf bukan saya tidak mau menerima pemberian atau baju bapak, tapi saya mau hidup dengan hasil keringat saya sendiri, terima kasih, wass" (tidak tepat begitu sepertinya, saya tidak baca smsnya tapi papa bacakan sms itu saat saya sedang menyetir, kira-kira begitu.
saya pikir kualitas begini yang rasanya saya rindukan dari orang indonesia -khususnya di televisi. karakter begini yang kita miliki tapi sepertinya hampir kita lupa.
1 komentar:
buset. langka amat
Posting Komentar